Sebelum Tewas, Rezky Sudah 2 Hari di Warnet

Kompas.com - 01/08/2012, 16:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rezky (19), pria yang tewas dibacok di Jalan H Muhi, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, ternyata telah dua hari menginap di Warnet Sixtone, tak jauh dari lokasi kejadian. Pemilik warnet, Sofyan Chandra alias Yano (21), menuturkan, selain korban, ada beberapa teman lain yang sedang berada di warnet.

"Zeey (Rezky) itu sudah dua hari ada di warnet. Katanya, dia datang ke situ karena ada game baru, namanya Dragonest," kata Yano ditemui di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Rabu (1/8/2012).

Selain Yano dan korban, di warnet tersebut juga ada beberapa rekan lainnya, yaitu Ridwan (adik Yano), Uta, Deus, dan Upit, pemilik motor Yamaha Jupiter Z nopol B 6998 NGV yang dikendarai Ridwan bersama korban.

Sebelum kejadian, Ridwan dan korban mengendarai motor milik Upit menuju warteg untuk makan. Seusai makan, keduanya berniat kembali ke warnet sambil membawa bungkusan makanan sahur untuk Upit.

"Mereka habis dari warteg makan sahur. Mereka juga bawa nasi bungkus buat si Upit (pemilik motor)," tutur Yano.

Yano melanjutkan, menurut cerita Ridwan, adiknya, dalam perjalanan pulang itulah muncul sepeda motor dari arah berlawanan yang ditumpangi dua orang. Mereka langsung memepetkan motor ke kendaraan yang ditumpangi Ridwan dan korban. Akibatnya, Ridwan harus meminggirkan kendaraan hingga ke tembok gang.

"Yang bawa motor pakai helm, yang dibonceng pakai kupluk. Mereka dipepet ke tembok, abis itu motor bebek pergi," ujar Yano.

Baru berjalan beberapa lama, muncul sepeda motor Yamaha Mio dari arah berlawanan yang ditumpangi dua orang. Saat itulah Ridwan melihat pengendara motor Mio mengayunkan sesuatu. Ia sendiri tidak mengetahui jenis alat lantaran kejadian berlangsung sekitar pukul 02.10 dini hari.

"Tiba-tiba tangan sebelah kanan si Ridwan basah dan berasa hangat. Dipikir si Ridwan, dia dilemparin kopi panas," kisah Yano.

Ridwan, lanjut dia, tidak menyadari cairan yang membasahi baju dan badannya adalah darah dari leher Rezky. Tanpa menengok kondisi Rezky, Ridwan terus mengendarai motor. Tak lama kemudian, Rezky jatuh ke aspal dengan posisi tengkurap. Darah bercucuran dari lehernya yang hampir putus.

Ridwan yang terkejut langsung menghentikan laju motor. Ia sempat meminta bantuan ke sebuah warteg. Namun, karena para pelayan semuanya wanita, tak satu pun di antara mereka yang bersedia membantu.

Ridwan kemudian melihat seorang anggota kepolisian di sebuah minimarket di dekat lokasi. Petugas kemudian datang ke lokasi dan langsung menghubungi ambulans untuk membawa jenazah korban ke RS Fatmawati untuk menjalani visum.

Sepeda motor yang ditumpangi korban saat ini telah diamankan ke Mapolsek Metro Kebayoran Lama sebagai barang bukti. Motor berwarna biru-perak itu tampak dipenuhi ceceran darah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau